Langsung ke konten utama

Symptahy For Lady Vengeance: Dendam Sarat Kebencian dan Kasih Sayang


Halo semua, apa kabar? Dalam kondisi karantina rumah, seperti biasa film masih jadi salah satu pilihan untuk menemani rasa bosan. Kalau mau rasa bosannya hapus mungkin bisa menonton film dengan genre psychological thriller bisa jadi opsi, bila merasa bosan dengan tema film romantis, atau lelah memantau episode DRAKOR yang kepanjangan. Contoh film yang bisa mengalihkan kebosanan kita menjadi tegang adalah Sympathy for Lady Vengeance (2005). Film ini merupakan arahan sutradara terkenal dari Korea Selatan Park Chan Wook.
Lee Geum Ja adalah seorang wanita yang berparas cantik, dan manis. Namun tidak ada yang menyangka kecantikannya berbalik 180 derajat dengan kehidupannya. Geum Ja  harus masuk penjara dengan dakwaan kasus penculikan dan pembunuhan anak bernama Park Mon Woo ditahun 1991. Geum Jan bukanlah pembunuh sebenarnya, namun demi melindungi anaknya yang masih bayi, dia terpaksa mengakuinya. Geum Jan terpaksa mendekam di penjara cukup lama mulai 1991-2004. Selama mendekam di penjara Geum Jan Di bukan menjadi wanita yang diam, melainkan penuh dengan akal. Geum Jan tumbuh menjadi wanita yang baik dan disukai sesama narapidana agar tujuannya terpenuhi bila keluar dari penjara: Membalaskan Dendamnya kepada Pembunuh sebenarnya, yaitu Gurunya sendiri waktu sekolah yang bernama Baek.
Seperti yang kita ketahui Park Chan Wook memang sutradara yang dikenal suka membuat film Psychological Thriller yang terlihat sadis, erotis, dan menegangkan, tapi juga bisa membuat kita sedih cerita tragis tokoh yang ada didalamnya. Dalam film ini, Park Chan Wook bahwa Geum Jan bukan cuman wanita yang penuh dengan amarah dendam saja, tapi wanita yang berusaha menepati janjinya dengan sungguh-sungguh sampai memotong jari tangannya. Walau hampir semuanya terlihat sadis ada juga scene yang memperlihatkan kita bahwa transformasi Geum Ja  yang ada mulai dari penjara hingga bebas, dendam yang penuh hasrat emosi tinggi demi rasa cintanya melindungi putrinya yang masih kecil. Cinta Geum Ja kepada sang anak ditunjukkannya dengan usaha kerasnya menulis sepucuk surat dengan belajar bahasa Inggris ala kadarnya demi bisa bertemu dengan anaknya yang tidak bisa bahasa Korea, lantaran diadopsi oleh warga Australia dan tinggal di Australia. Bisa dibilang Park Chan Wook sukses membuat emosi penonton terasa melankonis dengan cerita sentimental yang unik dan tidak biasa.
 Disisi teknis, sinematografi film sangatlah cantik, dan terkesan kreatif. Kita tidak terasa bosan dengan pergerakan kamera yang ada didalam film. Begitu juga dengan transisi antar scene ala Park Chan Wook yang selalu menarik dan terlihat menyatu yang sangatlah ciamik. Hanya saja seperti yang saya bilang sebelumnya, Film Park Chan Wook selalu saja penuh adegan-adegan yang tidak cocok untuk anak-anak dibawah umur. Bahkan orang dewasa pun belum tentu bisa menonton sampai habis film Park Chan Wook, lantaran beberapa adegan yang sangat erotis, dan penuh darah yang bisa membuat kita merasa ngeri dan aneh, dan kadang merasa gila sendiri. Tapi untuk soal sadis, menurut saya Sympathy for Lady Vengeance masih level medium bila dibandingkan dengan Oldboy karya Park Chan Wook sebelumnya yang menurut saya sangat mengerikan, dan sangat tragis. Pokoknya kalau dengar nama Park Chan Wook, sudah pasti cerita Thrillernya akan terasa beda dan aneh. Bukan hanya kemapuan  Park Chan Wook  yang kreatif, kemampuan akting di film ini juga sangat mempuni. Terutama Lee Yong Ae yang fantastis, menampilkan wanita cantik, anggun, manis dari luar bisa memiliki naluri membunuh yang kuat dan terang-terangan. Begitu juga scoring film yang apik membuat film tempoe doloe asal Korea Selatan ini masih enak ditonton. Untuk saya film ini dengan rating 7,4/10
Halo semua, apa kabar? Dalam kondisi karantina rumah, seperti biasa film masih jadi salah satu pilihan untuk menemani rasa bosan. Kalau mau rasa bosannya hapus mungkin bisa menonton film dengan genre psychological thriller bisa jadi opsi, bila merasa bosan dengan tema film romantis, atau lelah memantau episode DRAKOR yang kepanjangan. Contoh film yang bisa mengalihkan kebosanan kita menjadi tegang adalah Sympathy for Lady Vengeance (2005). Film ini merupakan arahan sutradara terkenal dari Korea Selatan Park Chan Wook.
Lee Geum Ja adalah seorang wanita yang berparas cantik, dan manis. Namun tidak ada yang menyangka kecantikannya berbalik 180 derajat dengan kehidupannya. Geum Ja  harus masuk penjara dengan dakwaan kasus penculikan dan pembunuhan anak bernama Park Mon Woo ditahun 1991. Geum Jan bukanlah pembunuh sebenarnya, namun demi melindungi anaknya yang masih bayi, dia terpaksa mengakuinya. Geum Jan terpaksa mendekam di penjara cukup lama mulai 1991-2004. Selama mendekam di penjara Geum Jan Di bukan menjadi wanita yang diam, melainkan penuh dengan akal. Geum Jan tumbuh menjadi wanita yang baik dan disukai sesama narapidana agar tujuannya terpenuhi bila keluar dari penjara: Membalaskan Dendamnya kepada Pembunuh sebenarnya, yaitu Gurunya sendiri waktu sekolah yang bernama Baek.
Seperti yang kita ketahui Park Chan Wook memang sutradara yang dikenal suka membuat film Psychological Thriller yang terlihat sadis, erotis, dan menegangkan, tapi juga bisa membuat kita sedih cerita tragis tokoh yang ada didalamnya. Dalam film ini, Park Chan Wook bahwa Geum Jan bukan cuman wanita yang penuh dengan amarah dendam saja, tapi wanita yang berusaha menepati janjinya dengan sungguh-sungguh sampai memotong jari tangannya. Walau hampir semuanya terlihat sadis ada juga scene yang memperlihatkan kita bahwa transformasi Geum Ja  yang ada mulai dari penjara hingga bebas, dendam yang penuh hasrat emosi tinggi demi rasa cintanya melindungi putrinya yang masih kecil. Cinta Geum Ja kepada sang anak ditunjukkannya dengan usaha kerasnya menulis sepucuk surat dengan belajar bahasa Inggris ala kadarnya demi bisa bertemu dengan anaknya yang tidak bisa bahasa Korea, lantaran diadopsi oleh warga Australia dan tinggal di Australia. Bisa dibilang Park Chan Wook sukses membuat emosi penonton terasa melankonis dengan cerita sentimental yang unik dan tidak biasa.
 Disisi teknis, sinematografi film sangatlah cantik, dan terkesan kreatif. Kita tidak terasa bosan dengan pergerakan kamera yang ada didalam film. Begitu juga dengan transisi antar scene ala Park Chan Wook yang selalu menarik dan terlihat menyatu yang sangatlah ciamik. Hanya saja seperti yang saya bilang sebelumnya, Film Park Chan Wook selalu saja penuh adegan-adegan yang tidak cocok untuk anak-anak dibawah umur. Bahkan orang dewasa pun belum tentu bisa menonton sampai habis film Park Chan Wook, lantaran beberapa adegan yang sangat erotis, dan penuh darah yang bisa membuat kita merasa ngeri dan aneh, dan kadang merasa gila sendiri. Tapi untuk soal sadis, menurut saya Sympathy for Lady Vengeance masih level medium bila dibandingkan dengan Oldboy karya Park Chan Wook sebelumnya yang menurut saya sangat mengerikan, dan sangat tragis. Pokoknya kalau dengar nama Park Chan Wook, sudah pasti cerita Thrillernya akan terasa beda dan aneh. Bukan hanya kemapuan  Park Chan Wook  yang kreatif, kemampuan akting di film ini juga sangat mempuni. Terutama Lee Yong Ae yang fantastis, menampilkan wanita cantik, anggun, manis dari luar bisa memiliki naluri membunuh yang kuat dan terang-terangan. Begitu juga scoring film yang apik membuat film tempoe doloe asal Korea Selatan ini masih enak ditonton. Untuk saya film ini dengan rating 7,4/10.

Komentar